Jeddah… Pintu Gerbang Saudi untuk Para Pendatang

Posted on July 13, 2011 by

5


Contributor: Jihan Davincka

“Wah, pelayannya orang Indonesia semua ya Bang”, kata saya suatu hari saat saya dan suami sedang berada dalam salah satu gerai Pizza Hut di kota Jeddah ini.
“Ha? Mana? Itu orang Filipina semua” jawab suami saya.

O ya? Ya ampun, setelah sejam kami berada disitu pun saya tetap gak percaya, soalnya secara fisik memang mirip sekali. Saya taunya orang Filipina rata-rata berkulit putih dan agak sipit dan kalau pun mirip orang Indonesia, miripnya dengan orang Manado. Norak ya? maklum jarang keluar negeri hehehe… Lama kelamaan saya sudah terbiasa membedakan orang Indonesia dan orang Filipina, tapi masih saja sering terkecoh.

Hanya orang Indonesia dan Filipina yang beredar di kota yang kerap dijuluki Pengantin Laut Merah ini? Nah, ini juga saya masih bermasalah dalam membedakan yang mana orang Pakistan, India, atau Bangladesh. Tapi yang asalnya dari Afganistan sangat mudah dikenali malah dengan perawakan yang agak kecil, mata sipit, kulit agak putih, dan hidung mancung. Orang Arab pun macam-macam asalnya. Bukan cuma warga asli Saudi saja. Tapi banyak sekali bangsa Arab pendatang yang asalnya dari Lebanon, Suriah, Mesir, Yaman, dll.

Dengan rupa-rupa anak bangsa yang beredar di kota ini, kira-kira bahasa apa yang paling penting dikuasai? Mestikah fasih berbahasa arab? Kalau bisa berbahasa arab, tentu akan memberi nilai tambah yang sangat baik. Tapi dengan pengalaman saya dan suami, bahasa Inggris saja juga sudah cukup kog🙂. Hampir di semua tempat umum para pelayan toko, penjaga butik di mal, kasir di swalayan, pekerja rumah sakit, fasih berbahasa inggris. Maklum, mungkin jumlah pendatang di kota ini sama banyaknya dengan penduduk asli Saudi yang bermukim di Jeddah. Khusus untuk perempuan Indonesia, jangan tersinggung kalau anda bisa berbahasa inggris akan kerap dianggap sebagai orang Filipina. Mayoritas perempuan Indonesia yang ada disini datang dengan paspor TKW dan pada umumnya tidak terlalu bisa berbahasa Inggris. Jadi jangan sensi ya Ibu-ibu😉 ….

Rasial sekali ya postingannya? :D… tidak bermaksud begitu. Hanya ingin menunjukkan bahwa kota Jeddah ini sebenernya tidak sekaku kota-kota lain di daratan Saudi. Nama toko, nama jalan, dan petunjuk-petunjuk umum lainnya tidak hanya dituliskan dalam huruf Arab, huruf Latin juga pasti disertakan. Aturan-aturannya pun tidak seketat kota lain. Misalnya saja peraturan untuk mengenakan tutup kepala bagi wanita muslim. Katanya bisa kena razia kalau macam-macam. Tapi di Jeddah ini, perempuan muslim pun boleh-boleh saja tidak bertutup kepala di tempat umum, jarang ada razia seperti itu.

Suasana kotanya pun lebih hiruk pikuk. Kuliner Indonesia pun lengkap. Bahkan banyak restoran asal Thailand atau Cina yang cocok dengan lidah kita. Dan seharusnya hampir semua jenis makanan yang dijajakan di kota ini bisa dikategorikan halal. Ditambah lagi dengan jaraknya yang hanya 70 km dari kota Makah, hanya perlu sekitar 40 menit perjalanan untuk memuja mengunjungi Masjidil Haram dan Ka’bah. Maka, selamat datang di kota Jeddah ^_^ … , pintu gerbang Saudi untuk para pendatang.

Posted in: Random Info