Universitas Ummul Quro Mekkah

Posted on September 26, 2011 by

14


Nasehat dari Sebuah Perjalanan

Oleh TaQ Shams

Belum terlintas dalam pikiran dan belum terbetik dari benak saya untuk menginjakkan kaki di negeri wahyu ini. Keinginan untuk belajar di UQU terus terang bukan kemauan saya, sepenuhnya adalah berkat upaya dan doa Ayah saya yang kekeuh mengharapkan anak-anaknya untuk belajar bahasa arab dan Islam di negeri Rasulullah memulai pembangunan dasar peradaban Islam ini. Disamping juga tidak terlepas dari kehendak Allah untuk memilih saya dan sebagian besar saudara-saudara saya belajar di UQU, ini. Masha Allah  Wa LillahilHamd.

Pengajuan berkas-berkas persyaratan (Ijazah, SKKB, Keterangan sehat, passport, rekomendasi tokoh masyarakat yang telah disalin dalam bahasa Arab) masuk UQU yang mengurus semuanya Ayah dibantu suami kakak yang telah menyelesaikan studinya di UQU. Pengajuan berkas tersebut diajukan pada saat saya sedang menjalani kuliah semester lima di Universitas Islam Negeri Malang – sekarang bertambah nama menjadi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN MMI) Malang – Batas waktu pengajuan studi ke UQU dua tahun dihitung dari mulai pengiriman berkas, jika setelah dua tahun tidak mendapat panggilan dan masih berminat untuk studi di UQU sebaiknya melakukan pengiriman ulang berkas.

Alhamdulillah saya mendapat panggilan sebelum Ayah harus melakukan pengiriman ulang berkas. Surat panggilan atau penerimaan saya sebagai mahasiswa UQU pada saat itu saya sedang menjalani kuliah semester akhir di UIN Malang. Mengingat kuliah di Malang tinggal satu semester, keluarga sepakat agar saya mengambil cuti satu tahun.  Setelah mendapat kesepakatan dari pihak kampus untuk cuti. Saya  mulai mengurus proses keberangkatan, dari check up kesehatan yang kemudian disertakan dengan berkas-berkas  dan surat panggilan/penerimaan, untuk disetorkan ke kedutaan besar Saudi Arabia di Jakarta. Berkas-berkas tersebut kemudian ditukar dengan visa pelajar.

Saya diterima pada saat musim haji, pesawat tujuan Saudi Arabia sudah dapat dipastikan telah habis dibocking jama’ah Indonesia yang akan menunaikan Ibadah Haji.  Ayah dan sebagian keluarga menginginkan saya berangkat sebelum tanggal 9 Dzulhijjah, agar sekalian bisa menunaikan haji. Setelah mencari di beberapa travel agency saya mendapatkan tiket dan berangkat ke Makkah tanggal 8 Dzulhijjah. Dengan dijemput  Adik  – yang satu semester lebih awal diterima belajar di UQU – dan saudara dari Ayah di Jeddah saya menuju makkah.  Keesokan harinya bersama orang-orang yang Allah pilih untuk memenuhi panggilanNya saya melaksanakan haji, Wa Lillahil Hamd.

Setelah melakukan rukun haji, saya tinggal di rumah saudara, sambil mengurus pengajuan untuk tinggal di asrama.  Mengingat saya belum bisa berkomunikasi bahasa Arab, saya dibantu teman kakak, beliau mengantar saya ke Idaratul Iskan li aththolibah (Kantor yang mengurusi asrama mahasiswa putri), untuk mengurus pengajuan asrama. Hanya dibutuhkan 1-2 hari untuk mendapat surat izin masuk asrama dan untuk pembuatan kartu mahram yang dibuat di kampus putra.

UQU hanya memberi kesempatan bagi mahasiswa asing belajar pada fakultas-fakultas agama – Usul ad din wadda’wah dan Syari’ah – Sebelum memasuki perkulihan di jurusan-jurusan yang diminati  pada fakultas-fakultas tersebut. Mahasiswa diharuskan untuk belajar terlebih dahulu di Ma’had al Lughah al ‘Arabiyah (Institut Bahasa Arab) kurang lebih selama empat level (dua tahun), bagi yang sama sekali belum punya dasar bahasa Arab. Bagi mahasiswa yang mempunyai basic bahasa Arab akan ditempatkan pada level yang sesuai dengan hasil tes.

Satu tahun di Ma’had al Lughah al ‘Arabiyah saya lalui, kemudian saya ambil cuti satu semester untuk melanjutkan kuliah di Malang. Alhamdulillah dengan idzin Allah saya dapat menyelesaikan kuliah di Malang, dan kembali meniti jalan cinta penuh cahaya di Makkah. Setelah menyelesaikan program Ma’had al Lughah al ‘Arabiyah selama dua tahun, saya diterima di fakultas syari’ah jurusan syari’ah.

Hari indah di Ma’had begitu indah dan sayang untuk dilupakan. Pada hari pengumuman kelulusan, seperti biasa kami akan berkumpul di Ma’had untuk menghimpun nasehat dan do’a dari teman-teman dan para ustadza sebelum kami benar-benar tidak akan duduk belajar bersama mereka. Hari indah yang kami lalui bersama mereka adalah jenak cinta yang selalu melahirkan energi dan kekuatan cinta yang luar biasa besar.

Semangat belajar yang lahir dari orang-orang pilihan. Dari mereka saya mendapati semangat yang tiada pernah habis. Dari mereka saya menemukan betapa berartinya menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu. Betapa cinta itu telah banyak merubah kebebalan diri yang senantiasa tidak dapat membendung kepungan kemauan tidak berarti yang selalu muncul.

Kesibukan mereka menjadi istri bagi suaminya, dan menjadi bunda bagi anak-anaknya, tidak mengurangi semangat mereka menjadi barisan para perindu. Jalan cinta yang mereka pilih menjadikan saya selalu iri dibuatnya.

Sebut saja Maryam Monica seorang muallaf dari Paris. Kesibukannya menjadi istri dan bunda bagi empat jundinya tidak menjadikan semangatnya surut untuk terus melanjutkan jalan cintanya sampai ke jenjang S2. Tidak kalah juga Samra’ Muslimah dari Turki, dia mulai meniti jalan cintanya di jenjang S3, ditengah kesibukannya menjalankan amanah sebagai istri bagi suaminya dan bunda bagi enam orang putra-putrinya… Dan banyak lagi…:)

Saya yang tidak memiliki kesibukan seperti mereka selalu iri dengan semangat mereka meniti jalan kerinduan salafussaleh ini. Bersama dan mengenal semangat mereka, saya berharap dapat dipancari cahaya semangat mulia mereka!! Ameen.

Kembali kepada nasehat dan do’a mereka. Hari itu tentu saja semua ustadzah dan mahasiswi ma’had menyambut kami dengan alfu mabruk .. Dengan do’a-do’a yang selalu dipanjatkan menyertai jenak jalan cinta kami. Nasehat ustadza Maryam sebagai wakil direktur Ma’had -pada waktu itu- merupakan salah satu nasehat yang ingin saya bagi di sini. Nasehat yang selalu menggerakkan kami berbuat sesuatu yang berarti bagi jenak kami. Walau sering juga kami biarkan nasehat-nasehat itu menjadi sekedar nasehat, karena kebebalan hati kami. Akan tetapi kami akan selalu merindu nasehat-nasehat itu.

Ingatlah setiap malam ada akhirnya…” begitu nasehat yang pertama yang terlontar dari bibir manisnya. “Setiap kesulitan yang akan menyapa kalian adalah keindahan bagi jalan cinta yang akan kalian lalui. Belajarlah pada semut.. Mengapa bahasa arab semut itu ‘Naml’ yang diambil dari kata ‘aaml’ yang berarti ‘harapan’? Karena semut merupakan makhluk Allah yang tidak pernah putus asa dalam mencari, mengantar dan menjaga makanan yang didapatnya. Walau kesulitan dan tantangan kerap menyapa perjalanannya..”


Posted in: Random Info