Riwayat Air Zam-Zam

Posted on February 14, 2012 by

1


Contributor : Dini Fabria
ZamZam, Dulu dan Kini
“Oee oeee…”, tangis si kecil Ismail melengking keras, sesudah beberapa hari sejak ditinggal oleh bapandanya Ibrahim bersama ibunya Hajar di negri gersang Mekkah. Hajar yang air susunya mengering pun ambil langkah menuju bukit Safa mencari air demi si buah hati yang kehausan. Tak ada di Safa, Hajar mencoba mengikuti oase di bukit Marwah. Kecewa, karna ia tak menemukan air juga. Tak putus asa ia kembali ke Safa, balik lagi ke Marwah hingga 7 kali putaran, namun tetap dengan tangan kosong. Dengan galau, didekatinya Ismail yang terus meronta-ronta sambil menggesek-gesekkan kakinya ke tanah pasir dekat Baitullah itu. Ajaib, muncul air yang terus menderas dari cekungan pasir hasil hentakan kaki-kaki Ismail. “Zammi zammii…”..”Kumpul..kumpul”, histeris Hajar yang terbelalak menyaksikan ‘mutiara’ yang dicari-carinya sedari tadi.
Cerita di atas adalah sekilas mengenai air zamzam yang selalu diminati umat muslim sedunia. Jamaah haji yang datang rela merepotkan diri menggotong-gotong dirijen besar berisi air zamzam untuk dibawa pulang ke tanah air masing-masing, untuk dibagikan dengan handai taulan mereka. Perjuangan untuk mendapatkan zamzam pun tak mudah. Sekitar 20 tahun lalu, umat Muslim harus mengantri di sumur zamzam yang terletak sekitar 6-7 meter di belakang tenggara Maqom Ibrahim. Maqom Ibrahim sendiri adalah batu yang dinaiki Nabi Ibrahim saat membangun Ka’bah. Batu ini memudahkan beliau karna bila diperintahkan naik maka ia akan naik, atau bila diperintahkan ke kanan ia akan ke kanan, dan seterusnya. Hingga sekarang batu tersebut berjejak kaki Nabi Ibrahim, terletak di depan pintu Ka’bah.

Tempat ZamZam model baru di Masjidil Haram

Back to zamzam… Seiring dengan kemajuan teknologi, sumur tersebut ditutup, juga demi perluasan jamaah yang thawaf. Gantinya dibuatlah pipa-pipa yang terhubung dari sumurnya ke beberapa titik keran di sekitar masjid. Juga disediakan galon-galon besar yang menyediakan airnya dengan ‘cold’ atau ‘not cold’.  Galon-galon ini berada banyak, hampir di setiap sudut masjid. Lalu, orang yang ingin meminum atau mengambil airnya cukup membuka keran, dan bebas berekspresilah mau menaruh airnya di botol-botol kecil, atau dirijen atau gelas-gelas untuk diminum di tempat. Dirijen-dirijen bisa dibeli sendiri di toko-toko sekitar Masjid Harom. Bisa juga membeli dengan ‘calo’ yang biasa standby di dekat keran-keran di halaman masjid sekaligus mereka juga memberikan jasa untuk mengambilkan airnya. Harganya kurang lebih 20 sar jika dengan airnya.

Juli 2011, dilaunchingkan proyek distribusi dan kemasan air zamzam. Proyek yang baru saja rampung ini menggunakan teknologi yang canggih untuk menjamin kebersihan air, kemudian mengemasnya ke dalam galon-galon berkapasitas 10 liter. Transaksi pembelian galon air ini dengan cara memasukkan koin di mesin yang tersedia di parkiran Kudai.
Beberapa bulan berjalan, mungkin karna dirasa kurang efektif, kini pembelian zamzam tak lagi memakai mesin, tapi dengan cara manual. Sudah ada tempat pembeliannya yang berlokasi di seberang parkiran Kudai atau ancar-ancarnya kira-kira 10 kilometer di arah mau pulang dari Harom ke Jeddah, sebelah kanan. Sebelum sampai di lokasi akan ada beberapa penjual zamzam di pinggiran jalannya, mereka menawarkan dari 8 sar sampai 10 sar. Kalo tergesa tak mengapalah beli disitu, tapi lokasi resminya sendiri sedikit lagi dijangkau. Tak kurang 20 meter akan terpampang billboard besar yang menandakan lokasi penjualan zamzam, bertulisan arab sih tapi dari gambar airnya kira-kira mengertilah kalau itu tempatnya hehee. Dari billboard itu masuk ke kanan ke semacam lapangan parkir yang cukup luas. Mudah sekali caranya, dengan memesan dan membayar sesuai yang diinginkan, galo-galon zamzam langsung dikeluarkan. Tak perlu mengeluarkan otot ekstra untuk mengangkutnya karna sudah tersedia trolley. Murah meriah, cukup 5 sar saja per galon😉. Glekh..aahhh…segarnyaaa zamzam…….:)
Posted in: Random Info