Akhirnya Naik Bus Kota Setelah 13 tahun

Posted on May 14, 2012 by

6


Bis Saptco antar kota
(image saptco.com.sa)

Contributor: Rita Kunrat

Hari itu benar-benar luar biasa bagiku. Tidak disangka, keinginan dan penasaran yang sudah bertahun-tahun dipendam, akhirnya terbayar sudah. Tau sendirilah, mana umum perempuan naik Bus Kota di Jeddah ini. Kalau pun ada, itu juga bukan orang Indonesia.

Alkisah, di suatu pagi matahari yang mulai tinggi, aku sedang menunggu taksi di depan toko-toko di Rawdah street. Sementara yang ditunggu belum muncul juga, dari jauh nampak sebuah Bus Kota berwarna merah jurusan Balad melaju dengan kecepatan sedang. Tanpa pikir lagi, langsung aku stop. Hah….aku naik Bus Kota?

Bus dengan kapasitas 40 kursi itu terbagi menjadi dua seksi. Dua pertiga bagian untuk kaum Adam(Men section) dan sepertiganya untuk kaumku(Ladies section). Kedua seksi dipisahkan dengan sebuah kaca transparan. Dulu malah pakai tirai kain,…..beeuuuh, segitunya. Penumpang laki-laki masuk dari pintu depan, langsung memasukkan uang pas ke dalam kotak uang tiket dengan pengawasaan supir. Gak ada kenek. Jika perempuan naik dari terminal awal keberangkatan, maka uang tiket diserahkan kepada supir  lalu penumpang naik dari pintu belakang. Kalau laki-laki dan perempuan itu keluarga, maka sang suami duduk di bagian depan dan isteri beserta anak kecilnya, mau laki-laki atau perempuan, ikut bersama ibunya duduk di belakang. Kalau naiknya dari tengah perjalanan, urusan ongkos, supir akan minggir untuk berhenti, jika ada tempat yang aman dan tidak mengganggu lalu lintas.

Biaya SR 2 termasuk sangat murah jika dibandingkan dengan ongkos taksi. Misalnya dari kawasan al Rawdah bisa SR20 dengan taksi umum dan bisa jadi SR 25 dengan taksi orang Indonesia, pak Apip…Haloow, papip😀.

Setelah duduk manis seorang diri di seksi belakang, seksi laki-laki sudah banyak orang. Santai sambil BBM-an dan sesekali menoleh keluar sekedar memastikan sudah sampai dimana perjalanan. Kebetulan jalan gak macet, nyaris cukup 10 menit waktu yang diperlukan untuk tiba di Balad.

Selama dalam perjalanan yang menyenangkan dan aman ini, tak ada gangguan, tak ada pandangan kebencian, sinis atau tolehan mata iseng penumpang laki-laki. Tak lama naik pula dua orang penumpang perempuan lainnya, orang Filipina dan seorang Arab bercadar. Seperti biasa, ucapan “Assalamualaikum” memecah kebisuan. Lalu semuanya kembali diam dalam pikiran sendiri-sendiri hingga kendaraan mencapai tujuan.

Kayak-kayaknya sih, mungkin aku kali ya perempuan Indonesia pertama yang naik Bus ini tanpa kawan. Sering terlintas dalam pikiran jika melihat Bus Kota di depan restoran Kereta Api di Balad. “Kapan ya aku bisa naik Bus ini. Duduk nyaman seperti naik bus di negeri sendiri. Tanpa keraguan, tanpa rasa takut sebagaimana cerita burung yang selama ini beredar?”. Aku ingin menghapus stigma dan anggapan yang tidak masuk akal selama ini bahwa naik bus umum disini berbahaya. Bisa jadi berbahaya jika kita tidak tahu hendak kemana, atau menampakkan sikap dan perilaku memancing dan ‘menggoda’, serta tidak mampu berkomunikasi dengan baik. Bagi aku sih, percaya diri dan bersikap sopan dan tegas kepada yang bertanya, sudah cukup membangun keberanian di atas jalan yang benar. Bukan begitu, kawan?

Siapa saja perempuan yang biasa naik Bus Kota ini? Sepengetahuanku pada umumnya suster-suster Filipina, bahkan masih dalam balutan pakaian seragaam putihnya, tanpa Abaya pula. Terus aku lihat juga perempuan Arab dengan bercadar serta perempuan hitam. Nah, jadi gada salahnya kalau ibu-ibu mau mencoba.

Naik bus ke Mekah sendiri juga aman kok. Cukup pergi ke Terminal SAPTCO Balad, beli tiket, tunggu jadual perjalanan busnya, duduk sekitar satuu jam, kita bisa tidur atau wirid. Sampe deh di depan Masjidil Haram. Beli tiket return sekalian. Waktu itu sih pp cuma SR 20. Cuma masalahnya jika kembali ke Jeddah selesai sholat Zuhur, lama menunggu busnya. Kalau sebelum azan Zuhur, lebih gampang.

Nah, kalau gada bus? Yaa…naik taksi lah. Pilih yang ada penumpang perempuannya. Turunnya biasanya di Bab Mekah. Ongkosnya kadang sama dengan ongkos bus tapi seringnya lebih, sekitar minimal SR 15/orang. Ini di luar Ramadhan dan musim haji.

So, naik bus kota adalah pengalaman yang tak terlupakan.

Posted in: Info Jalan-jalan